Tuesday, May 7, 2013

Tradisi Pengajaran Ilmu-Ilmu Keagamaan Islam di lingkungan Pesantren: Telaah terhadap Ādāb al-Ālim wa al-Muta‘allim.


DUIJT, 7 Mei 2013
Prolog
Terdapat dua buku yang sering dijadikan rujukan dalam merekonstruksitradisi pengajaran ilmu-ilmu ke-Islaman di lingkungan pesantren. Yang pertama adalah Ta‘līm al-Muta‘allim arīqat al-Ta‘allum karya Burhān al-Dīn al-Zarnūji (hidup pada akhirabad ke 12 hingga awal abad ke-13 Masehi). Buku tersebut masih dipergunakan dilingkunan pesantren di Jawa pada khususnya dan di wilayah luar Jawa padaumumnya. Buku kedua ditulis oleh K.H. Hashim Ash’ari (w. 1947) yang berjudul Ādāb al-Ālim wa al-Muta‘allim.  Meskipun buku kedua tidak seterkenal dan dipergunakan seluas bila dibandingkan dengan buku kedua, posisi penulisnya sebagai Rais Akbar Nahat al-‘Ulama menjadikan buku kedua tidak mungkin diabaikan begitu saja.

Saya ingin mencoba dalam tulisan sederhana ini untuk memfokuskan pada buku kedua dengan dua alasan. Pertama sudah terlalu banyak uraian tentang buku pertama, sedangkan terlalu sedikit yang memberikan ulasan bagi buku kedua. Kedua ada persoalan yang tidak dibahas dalam buku pertama dan memperoleh perhatian pada buku kedua. Persoalan tersebut, aspek profetik ilmu pengetahuan tidak hanya melibatkan etika mencari ilmu yang dilakukan oleh seorang pencari ilmu (bagian ini sudah dikupan habis oleh karya al-Zarnujī), tapi juga aspek spiritualitas seorang penyampai ilmu pengetahuan (al-Ālim).

Kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim
Kitab ini berada pada urutan pertama dari lima belas buku karya Kyai Hashimyang terkumpul dalam Irshād al-Sārī. Kitab ini memiliki judul lengkap Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim Fīmā yatāju ilayhi al-Muta‘allim FīAwāli ta‘allumihi wa mā yatawaqqaf `alayh al-Mu‘allim fī Maqāmāt Ta‘līmih. Kitab ini terdiri dari delapanpokok bahasan.
Delapan pokok bahasan yang dikandung dalam kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim adalah: Pertama,membahas tentang keutamaan ilmu pengetahuan, mereka yang cinta ilmu dan merekayang mengajarkannya. Kedua, menguraikan tentang sikap dan etika seorang pelajarsaat menuntu ilmu. Ketiga, menjelaskan etika yang seharusnya dimiliki seorang pelajar terhadap gurunya saat sedang menuntut ilmu. Keempat memaparkan etikaseorang pelajar terhadap ilmu yang sedang dituntutnya. Kelima, perilaku diriseorang pengajar. Keenam, membicarakan etika yang seharusnya dimiliki seorang pengajar terhadap ilmu yang akan diajarkannya. Ketujuh, membahas etika seorang pengajar terhadap gurunya, dan yang terakhir etika proses pembelajaran terhadap buku yang sedang dipelajari.  

Spiritualitas seorang Penyampai Ilmu (al-‘Ālim)
Kyai Hashim menguraikan spiritualitas seorang penyampai dalam dua bagian, dibagian kelima (al-bāb al-khāmis), dan bagiankeenam (al-bāb al-sādis). Pada bagian kelima dijelaskan tentang etika pribadi seorang penyampai ilmu (Fī Ādāb al-‘Ālim fī aqq Nafsihi). Kyai Hashim merinci 20 etika pribadi seorang penyampai ilmu pengetahuan.
1.      Senantiasa mendekatkan kepada Allah secara terang terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi.
2.      Berusaha untuk senantiasa merasa takut kepada Allah di setiap gerak langkah hidupnya.
3.      Berwataktenang, kalem (al-sakīna)
4.      Menjauhi hal yang haram atau shubhāt (al-wara‘)
5.      Berwatak rendah hati (al-tawāḍu‘)
6.      Selalu Khushu’ hanya kepada Allah
7.      Seluruh tafsir atas ajaran keagamaan hanya untuk ridla Allah.
8.      Tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk meraih keuntungan duniawi.[1]
9.      Tidak silau dengan daya tarik kenikmatan duniawi.
10.  Berwatak Zuhud dalam hal urusan dunia.
11.  Menjauhi pekerjaan yang tidak mulia, seperti melakukah hal yang hukumnya makruh baik itumenurut pandangan adat istiadat maupun syari’ah agama.
12.   Menjauhkan perilaku berandai andai yang pada akhirnya mendorong kepada perilaku buruk.
13.  Menjaga diri agar selalu mengerjakan Syari’at Allah dalam hidup sehari hari seperti, selalu menjalankan sholat berjamaah di masjid.
14.  Menjalankan tradisi kegamaan dan menghindari bid`ah (imātat al-bida`).
15.  Mengerjakan yang disunnahkan agama, baik secara lisan (qawliyya) ataupun aksi (fi‘liyya)
16.  Bersosialisasi sesama manyarakat dengan perilaku mulia.
17.  Membersihkan jiwa dan perbuatannya dari sifat sifat tercela.
18.  Terus belajar dan membaca sehingga setiap saat bertambaah ilmunya.
19.  Tidak mengutib pendapat seseorang kecuali ia sendiri paham akan pandangan tersebut.Bila ia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui, ia akan berkata ”saya tidak tahu"
20.  Berusaha  menyibukkan diri untuk mengarang, mengumpulkan sumber.

Etika seorang penyampai ilmu kepada muridnya
1.      Niat mengajar adalah mencari ridla Allah demi menyebar luaskan agama.
2.      Tidak boleh menolak mengajar seorang yang akan menuntut ilmu dengan alasan ”sayatidak ikhlas”
3.      Mencintai muridnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
4.      Berusaha menyampaikan ilmunya dengan bahasa yang mudah dan bahasa yang sopan.
5.      Selalu berusaha mengajarkan ilmunya dengan rajin.
6.      Mengevaluasi apa yang dipahami murid dari apa yang telah ia ajarkan.
7.      Mengetahui kemampuan muridnya sehingga tidak menyampaikan pengetahun di luar kemampuanmuridnya.
8.      Tidak menunjukkan cintanya kepada salah stu muridnya melebihi kepada murid lainnya.Seorang guru harus memberikan cintanya kepada semua muridnya dengan kadar yang sama.
9.      Mengetahui betul siapa muridnya, mencintai semua yang hadir dan mendoakan untuk kebaikan murid yang berhalangan hadir.
10.  Mengajarkan kepada muridnya agar berperilaku mulia, seperti senantiasa mengucapkan salam, berbicara yang santun, saling membantu sesama saudaranya.
11.  Membantu untuk memenuhi kebutuhan muridnya sejauh yang ia mampu.
12.  Bila ada murid yang tidak bisa hadir mengikuti pelajaran, maka seorang harus bertanya kepada kerabatnya akan kondisinya.
13.  Selalu rendah hati kepada para muridnya.
14.  Selalu berbicara terhadap muridnya dengan bahasa yang santun

(AM-02)

[1] Sayamemperoleh cerita bahwa Kyai Jalil, mengutib ajaran Kyai Hasyim yang ia dengardari ayahnya Kya Abu Faḍa’il melarang seorang santri belajar seni membaca Al-Qur’an supaya memperolehkeuntungan finansial dari suaranya, seperti untuk menjadi juara MTQ.

No comments:

Post a Comment